Seandainya Hal Itu Baik

Seandainya hal itu baik

Perkataan “Lau Kaana Khairan Lasabaquuna ilaihi”, “Seandainya hal itu baik, tentu mereka telah mendahului kita untuk melakukannya” adalah mereka yang bertasyabuh dengan kaum kafir

Perkataan tersebut ada yang mirip dengan firmanNya namun merupakan perkataan orang-orang kafir

waqaala alladziina kafaruu lilladziina aamanuu lau kaana khairan maa sabaquunaa ilaihi wa-idz lam yahtaduu bihi fasayaquuluuna haadzaa ifkun qadiimun,

“Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya di (Al-Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”. (QS al Ahqaaf [46]:11 ).

Oleh karena mereka memahami hadits “Kullu bid’atin dholalah” tidak menggunakan alat bahasa seperti nahwu, shorof, balaghoh sehingga mereka terjerumus dalam kesesatan atau kesalahpahaman tentang bid’ah seumur hidup mereka.

Oleh karena kesalahpahaman tentang bid’ah sehingga mereka barakhlak buruk yakni berprasangka buruk bahwa kaum muslim lainnya telah melakukan perkara bid’ah bahkan menuduh kaum muslim lainnya sebagai ahli bid’ah. Tuduhan akan kembali kepada diri mereka sendiri karena kesalahpahaman mereka tentang bid’ah sehingga mereka melakukan bid’ah dalam urusan agama (urusan kami)

Tidak semua yang tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maupun para Sahabat adalah perkara buruk atau perkara tertolak

Perkara yang tertolak adalah bid’ah dalam urusan agama atau dalam beberapa hadits yang lain dikatakan bid’ah dalam urusan kami yakni bid’ah dalam urusan yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla menetapkannya.

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس مِنه فهوردٌّ

“Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada sumbernya (tidak turunkan keterangan padanya) maka tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari bapaknya dari Al Qasim bin Muhammad dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya (tidak turunkan keterangan padanya) maka perkara itu tertolak.” (HR Bukhari 2499)

Bid’ah dalam urusan agama atau bid’ah dalam “urusan kami” adalah bid’ah dalam urusan yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla menetapkannya atau mensyariatkannya yakni mengada-ada larangan yang tidak dilarangNya , mengharamkan yang tidak diharamkanNya dan mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkanNya.

Segala perkara dalam urusan agama (urusan kami) atau segala perlkara dalam perkara syariat, berlaku kaidah ushul fiqih “al-ashlu fil ‘ibaadati at-tahrim” yang artinya “hukum asal ibadah adalah haram” maksudnya ibadah dalam perkara syariat (apa yang telah disyariatkanNya) harus berdasarkan dalil yang menetapkannya.

Kita tidak boleh menetapkan hukum perkara terkait dosa, baik sesuatu yang ditinggalkan berdosa (perkara kewajiban) maupun sesuatu yang dikerjakan / dilanggar berdosa (perkara larangan/pengharaman) tanpa ada dalil yang menetapkannya.

Firman Allah ta’ala yang artinya “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS. al-Maidah [5]:3)

Ibnu Katsir ketika mentafsirkan (QS. al-Maidah [5]:3) berkata, “Tidak ada sesuatu yang halal melainkan yang Allah halalkan, tidak ada sesuatu yang haram melainkan yang Allah haramkan dan tidak ada agama kecuali perkara yang di syariatkan-Nya.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla membawa agama atau perkara yang disyariatkanNya yakni apa yang telah diwajibkanNya (jika ditinggalkan berdosa), apa yang telah dilarangNya dan apa yang telah diharamkanNya (jika dilanggar berdosa). Allah ta’ala tidak lupa.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi dan tercantum dalam hadits Arba’in yang ketiga puluh)

Rasulullah Shallallau ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apa-apa yang Allah halalkan dalam kitabNya adalah halal, dan apa-apa yang diharamkan dalam kitabNya adalah haram, dan apa-apa yang didiamkanNya adalah dibolehkan. Maka, terimalah kebolehan dari Allah, karena sesungguhnya Allah tidak lupa terhadap segala sesuatu.” Kemudian beliau membaca (Maryam: 64): “Dan tidak sekali-kali Rabbmu itu lupa.” (HR. Al Hakim dari Abu Darda’, beliau menshahihkannya. Juga diriwayatkan oleh Al Bazzar)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)
“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)
“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)

Telah sempurna agama Islam maka telah sempurna atau tuntas segala laranganNya, apa yang telah diharamkanNya dan apa yang telah diwajibkanNya, selebihnya adalah perkara yang didiamkanNya atau dibolehkanNya.

Firman Allah ta’ala yang artinya “dan tidaklah Tuhanmu lupa” (QS Maryam [19]:64)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ فِي الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ عَلَى الْمُسْلِمِينَ فَحُرِّمَ عَلَيْهِمْ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

“Orang muslim yang paling besar dosanya (kejahatannya) terhadap kaum muslimin lainnya adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang sebelumnya tidak diharamkan (dilarang) bagi kaum muslimin, tetapi akhirnya sesuatu tersebut diharamkan (dilarang) bagi mereka karena pertanyaannya.” (HR Bukhari 6745, HR Muslim 4349, 4350)

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf [7] : 33)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Rabbku memerintahkanku untuk mengajarkan yang tidak kalian ketahui yang Ia ajarkan padaku pada hari ini: ‘Semua yang telah Aku berikan pada hamba itu halal, Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya”. (HR Muslim 5109)

Bid’ah dalam urusan agama adalah perbuatan menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah Azza wa Jalla tidak turunkan keterangan padanya sehingga pelaku bid’ah dalam urusan agama maka Allah Azza wa Jalla menutup taubat mereka sampai mereka meninggalkan bid’ahnya.

Dari Anas r.a. berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda : “Sesungguhnya Allah menutup taubat dari tiap-tiap orang dari ahli bid’ah sehingga ia meninggalkan bid’ahnya.” (H. R. Thabrani)

Allah Azza wa Jalla berfirman, “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )

Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?” Nabi menjawab, “tidak”, “Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“

Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)

Jadi mereka bertasyabuh dengan kaum kafir yakni menjadikan ulama mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“ (QS at-Taubah [9]:31 )

Contoh pelaku bid’ah dalam urusan agama adalah mereka yang melarang atau mengharamkan peringatan hari besar keagamaan seperti peringatan Maulid Nabi, Isra Mi’raj, Nuzulul Qur’an. Sedangkan peringatan Maulid Nabi tidak satupun ulama yang sholeh yang menetapkannya sebagai sebuah kewajiban yang jika ditinggalkan akan berdosa

Contoh uraian salah satu ulama panutan mereka, ulama Abdurrahman as-Sudais pada http://www.alsudays.com/articles.php?action=show&id=34 atau pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2012/03/pendapat-sudais.pdf

Bahkan menurut ulama Ibnu ‘Utsaimin , peringatan seperti Isra Mi’raj termasuk perbuatan syirik seperti yang terurai pada http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/06/06/kisah-isra-miraj/

Contoh lainnya fatwa ulama yang nyeleneh yang menetapkan haram bagi wanita bersinggungan atau makan pisang dan mentimun untuk mencegah timbulnya gairah sex. diperbolehkan dalam keadaan terpotong-potong. Mungkin maksud ulama tersebut wanita haram memakan pisang dan mentimun dalam keadaan utuh belum dipotong-potong. Silahkan periksa linknya pada http://assawsana.com/portal/pages.php?newsid=58893

Contoh lainnya adalah sekte atau firqoh Al-Shabaab Somalia yang menghancurkan makam-makam kaum muslim di sana juga mengharamkan kue Samosa, makanan ringan berbentuk segitiga dengan isian daging cincang dan sayur. Alasan, makanan itu terlalu kebarat-baratan dan terlalu berbau Kristen. Linknya pada http://kabar-aneh.blogspot.com/2011/08/kue-ini-jadi-makanan-terlarang-di.html Berita penghancuran makamnya pada http://metafisis.wordpress.com/2010/05/16/penghancuran-kuburan-keramat-di-somalia/

Contoh lainnya mereka yang mengharamkan tomat dengan alasan tomat yang telah dipotong menjadi dua maka akan memperlihatkan bentuk mirip salib di bekas potongan buah tomat itu. Linknya pada http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/06/19/m5ut77-makan-tomat-haram-di-lebanon-kok-bisa atau pada http://www.nowlebanon.com/BlogDetails.aspx?TID=2451&FID=6

Sumber
http://myquran.org/forum/index.php/topic,82008.msg2207049/topicseen.html#msg2207049
ZonJonggol : myQuran.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s